Representasi visual tatanan dunia di mana kapital, hukum, dan kekuasaan global saling terhubung, mempertanyakan siapa yang sesungguhnya mengendalikan dunia modern.
Pendahuluan
Ada satu kekeliruan besar dalam cara banyak orang memahami neoliberalisme. Ia sering dibayangkan sebagai ideologi yang hendak “membebaskan pasar” dari negara, seolah-olah pasar adalah entitas alamiah yang cukup dibiarkan bekerja sendiri, dan negara hanya menjadi pengganggu yang harus dipreteli pelan-pelan. Akan tetapi, dari halaman-halaman awal Globalists (2028), Quinn Slobodian justru mengajukan tesis yang jauh lebih mengganggu, lebih cerdas, dan lebih penting untuk dipikirkan ulang: neoliberalisme bukan pertama-tama proyek pembebasan pasar, melainkan proyek membingkai, melindungi, dan mengamankan pasar melalui perangkat institusional, hukum, dan tatanan global yang sengaja dirancang. Dengan kata lain, pasar tidak dibebaskan; pasar dikurung secara strategis dalam sebuah arsitektur yang menjadikannya aman dari tekanan demokrasi, dari tuntutan redistribusi, bahkan dari kedaulatan rakyat itu sendiri.
Di sini letak kedahsyatan buku ini. Slobodian tidak hanya membantah klise lama tentang neoliberalisme, tetapi juga menggeser pusat analisis dari ekonomi ke orde dunia. Ia mengajak pembaca untuk memahami bahwa pertanyaan neoliberal yang sesungguhnya bukan “bagaimana membuat pasar bebas?”, melainkan “bagaimana menciptakan dunia yang membuat kapitalisme tetap bertahan, bahkan ketika imperium lama runtuh, negara bangsa bermunculan, dan demokrasi massa mulai menuntut keadilan sosial?” Pertanyaan ini jauh lebih besar daripada sekadar debat antara negara dan pasar. Ia adalah pertanyaan tentang siapa yang berhak mengatur dunia, atas dasar nilai apa, dan dengan instrumen kelembagaan seperti apa.
Karena itu, pengantar buku ini sangat penting dibaca bukan sebagai pengantar teknis sejarah pemikiran ekonomi, tetapi sebagai pintu masuk ke persoalan yang jauh lebih filosofis: bahwa modernitas global tidak pernah netral. Ia selalu dibangun di atas perebutan makna mengenai kebebasan, kedaulatan, hukum, dan manusia. Dalam bacaan Slobodian, neoliberalisme tidak lahir dari optimisme naif terhadap kebajikan pasar, melainkan dari kecemasan mendalam terhadap dunia pasca-imperium. Ketika imperium runtuh, ketika koloni menuntut kemerdekaan, ketika demokrasi menjadi kekuatan massa, para pemikir neoliberal justru membaca situasi itu sebagai ancaman terhadap stabilitas kapitalisme global. Maka mereka tidak menyerukan anarki pasar, tetapi membayangkan suatu konstitusi ekonomi dunia yang mampu menjaga sirkulasi kapital dari gangguan politik.
Dengan demikian, neoliberalisme tampil bukan sebagai pelepasan kekuasaan, tetapi sebagai rekayasa kekuasaan. Ia tidak menghapus negara, melainkan mengubah fungsi negara. Ia tidak memusnahkan hukum, melainkan memperluas hukum ke tingkat transnasional. Ia tidak merayakan demokrasi, melainkan berupaya membatasi jangkauan demokrasi agar tidak menyentuh jantung pengaturan ekonomi. Di sinilah kita melihat bahwa neoliberalisme adalah politik yang sangat sadar akan pentingnya institusi. Ia tidak mempercayai masyarakat; ia mempercayai rancangan. Ia tidak percaya pada spontanitas rakyat; ia percaya pada pagar-pagar hukum yang melindungi pasar dari intervensi kolektif.
Apa yang membuat argumen ini begitu penting bagi pembaca hari ini adalah kenyataan bahwa banyak dari kita masih hidup dalam ilusi bahwa globalisasi adalah perkembangan alamiah dunia modern. Seakan-akan dunia memang secara otomatis bergerak menuju keterhubungan tanpa batas, liberalisasi perdagangan, dan integrasi ekonomi global. Slobodian memaksa kita untuk keluar dari romantisme itu. Globalisasi bukan nasib. Ia adalah proyek intelektual dan institusional. Ia dirancang, diperdebatkan, dipaksakan, dan dibentengi yang kemudian berwujud sebagai salah satu daripada tatanan baru dunia. Dan karena ia adalah proyek, ia juga dapat dikritik, dibongkar, dan dipikirkan ulang.
Ketidak Alamiahan Pasar
Salah satu kekuatan utama pengantar Globalists terletak pada upayanya meruntuhkan mitos tentang pasar sebagai sesuatu yang natural. Selama ini, dalam bahasa populer maupun akademik, neoliberalisme sering direduksi menjadi keyakinan pada “pasar yang mengatur dirinya sendiri.” Slobodian menunjukkan bahwa reduksi semacam ini justru menyesatkan. Para pemikir neoliberal yang ia soroti tidaklah sebodoh itu. Mereka tahu bahwa pasar tidak akan bertahan tanpa kerangka legal, tanpa institusi, tanpa norma, tanpa negara, dan tanpa tatanan internasional yang menopangnya. Artinya, mereka tidak sedang memperjuangkan absennya politik, melainkan jenis politik tertentu: politik yang menjadikan pasar sebagai wilayah suci yang harus dijaga.
Karena itu, konsep yang sangat penting dalam pengantar ini adalah encasement, bukan liberation. Ini adalah pergeseran terminologis yang membawa implikasi konseptual yang besar. Encasement berarti pembungkusan, perlindungan, atau penyelubungan institusional. Pasar tidak dilepaskan ke ruang hampa; ia ditempatkan dalam rumah hukum dan kelembagaan yang dirancang untuk mengamankan logika kapital dari gangguan eksternal. Gangguan itu bisa datang dari tuntutan buruh, demokrasi parlementer, nasionalisasi, redistribusi, gerakan antikolonial, atau kebijakan negara berkembang yang hendak melindungi ekonominya sendiri. Dalam kacamata neoliberal global, semua itu adalah ancaman yang harus dikendalikan.
Di sinilah kita melihat paradoks yang tajam. Neoliberalisme sering berbicara atas nama kebebasan, tetapi kebebasan yang dimaksud bukanlah kebebasan rakyat untuk menentukan arah ekonomi bersama. Kebebasan di sini adalah kebebasan kapital untuk bergerak, berinvestasi, dan mencari perlindungan lintas batas. Maka ketika demokrasi mencoba memperluas makna kebebasan menjadi kebebasan dari kemiskinan, kebebasan dari eksploitasi, atau kebebasan untuk menentukan model pembangunan nasional, neoliberalisme justru melihatnya sebagai bahaya. Ia menginginkan dunia di mana ekonomi dibentengi dari kehendak politik mayoritas.
Pembacaan semacam ini amat berguna karena ia membantu kita memahami mengapa begitu banyak lembaga internasional modern tampak seolah-olah netral, padahal bekerja dalam logika yang sangat spesifik. IMF, WTO, perjanjian perdagangan bebas, rezim investasi internasional, bank sentral independen, bahkan arsitektur hukum yang melindungi investor asing, semuanya dapat dibaca sebagai bagian dari proyek encasement tersebut. Ini bukan konspirasi, melainkan rasionalitas kelembagaan. Dunia global dibangun sedemikian rupa agar kapital merasa aman, bahkan ketika rakyat suatu negara menghendaki sesuatu yang lain.
Dengan demikian, persoalan pokoknya bukan lagi “pasar versus negara,” tetapi negara seperti apa, hukum seperti apa, dan tatanan internasional seperti apa yang dibuat untuk melayani siapa. Pertanyaan ini lebih tajam, lebih politis, dan lebih jujur. Ia menolak propaganda bahwa neoliberalisme identik dengan minimal state. Yang sesungguhnya lebih tepat adalah bahwa neoliberalisme membutuhkan strong state for market purposes—negara yang cukup kuat untuk mendisiplinkan masyarakat, namun cukup terbatas untuk tidak mengganggu hak gerak kapital.
Akhir Imperium dan Kelahiran Tata Dunia Baru
Subjudul buku ini, The End of Empire and the Birth of Neoliberalism, merupakan jantung dari argumen dalam karya ini. Slobodian memperlihatkan bahwa neoliberalisme harus dibaca dalam konteks krisis besar abad ke-20: runtuhnya imperium-imperium lama, munculnya negara-negara baru, dan tuntutan dekolonisasi yang mengubah peta politik dunia. Ini sangat penting. Sebab selama ini neoliberalisme kerap dikaitkan secara sempit dengan Reagan, Thatcher, atau Chicago School. Padahal Slobodian mengajak kita melihat akar yang lebih dalam, lebih Eropa, dan lebih terkait dengan persoalan orde pasca-imperial.
Bagi para pemikir yang kelak membentuk apa yang ia sebut sebagai “Geneva School,” keruntuhan imperium bukan semata kemenangan kebebasan. Ia juga menghadirkan masalah besar: bagaimana menjaga keterhubungan kapitalisme global ketika unit-unit politik dunia semakin terpecah ke dalam negara-negara berdaulat? Dalam konteks inilah neoliberalisme lahir bukan sebagai pujian kepada kedaulatan nasional, melainkan sebagai respons atas bahaya yang mereka lihat dalam nasionalisme ekonomi, proteksionisme, dan demokrasi redistributif. Mereka curiga bahwa dunia pasca-imperium dapat mengarah pada fragmentasi ekonomi global yang dianggap mematikan bagi kapitalisme.
Di sini, neoliberalisme tampil sebagai nostalgia yang canggih. Bukan nostalgia untuk menghidupkan kembali imperium secara formal, tetapi nostalgia untuk menjaga fungsi-fungsi imperium dalam bentuk baru. Jika imperium lama menjaga keterbukaan wilayah bagi sirkulasi barang dan kapital melalui dominasi langsung, maka neoliberalisme ingin menggantinya dengan tatanan hukum internasional yang lebih abstrak, lebih teknokratik, dan tampak lebih sah. Dengan kata lain, setelah imperium berakhir, diperlukan arsitektur baru agar dunia tetap terbuka—bukan untuk manusia secara setara, tetapi terutama untuk kapital.
Di sinilah kita dapat membaca buku ini sebagai kritik atas bentuk kolonialisme yang telah berganti pakaian. Kolonialisme tidak selalu kembali dalam bentuk pendudukan teritorial. Ia dapat hadir sebagai rezim aturan global yang membatasi pilihan pembangunan negara-negara pascakolonial. Ia dapat hadir sebagai tekanan agar negara membuka pasar, menjaga iklim investasi, menahan redistribusi, dan tunduk pada disiplin fiskal yang ditentukan oleh norma global. Dalam bentuk ini, kekuasaan menjadi lebih dingin, lebih legal, dan lebih sulit dikenali. Ia tidak selalu memerintah lewat senjata; ia sering memerintah lewat aturan.
Bacaan seperti ini sangat relevan bagi dunia Selatan, termasuk Indonesia. Sebab pengalaman pascakolonial kita tidak hanya diwarnai perjuangan memperoleh kemerdekaan politik, tetapi juga pergulatan panjang untuk mengisi kemerdekaan itu secara ekonomi. Dalam banyak kasus, negara-negara baru merdeka segera berhadapan dengan rezim global yang membuat ruang geraknya sempit. Mereka merdeka sebagai entitas politik, tetapi tidak sepenuhnya berdaulat dalam menentukan model ekonomi. Maka buku ini penting karena menunjukkan bahwa ketegangan antara nasionalisme ekonomi dan globalisasi neoliberal bukan fenomena belakangan, melainkan salah satu inti dari sejarah dunia modern itu sendiri.
Geneva School: Melampaui Chicago
Salah satu sumbangan paling menarik dari pengantar ini adalah upaya Slobodian untuk memindahkan perhatian dari Chicago School ke apa yang ia sebut sebagai Geneva School. Ini bukan sekadar koreksi sejarah intelektual; ini adalah reposisi besar terhadap cara kita memahami sumber neoliberalisme. Dengan menyoroti tokoh-tokoh yang terhubung dengan Jenewa, WTO, GATT, dan tradisi ordoliberal Eropa, Slobodian ingin menunjukkan bahwa neoliberalisme sejak awal adalah proyek tata dunia (world order), bukan hanya teori pasar domestik.
Langkah ini sangat penting karena fokus berlebihan pada Chicago School sering membuat neoliberalisme tampak semata-mata sebagai teori efisiensi, deregulasi, privatisasi, dan monetarisme. Padahal, seperti ditunjukkan pengantar ini, ada jalur lain yang justru lebih obsesif pada persoalan hukum internasional, tatanan supranasional, dan konstruksi institusional global. Jalur inilah yang memungkinkan kita memahami mengapa neoliberalisme memiliki daya tahan luar biasa: ia tidak hanya hidup dalam buku teks ekonomi, tetapi bersemayam dalam lembaga, traktat, konstitusi, dan prosedur internasional.
Geneva School, dalam pembacaan Slobodian, lebih peka terhadap persoalan dunia pasca-imperium karena para pemikirnya lahir dari pengalaman Eropa Tengah, dari keruntuhan tatanan lama, dari kesadaran bahwa negara tidak bisa dipahami terpisah dari persoalan akses terhadap pasar dunia. Mereka tidak memiliki kemewahan seperti intelektual Amerika yang bisa memandang negaranya sebagai model dunia. Karena itu, mereka lebih serius memikirkan bagaimana menciptakan kerangka global yang dapat menjaga keterhubungan ekonomi lintas batas. Ini membuat neoliberalisme mereka lebih telanjang: lebih jelas sebagai proyek pengaturan dunia.
Perpindahan dari Chicago ke Geneva juga penting secara metodologis. Ia mengingatkan kita bahwa sejarah ide tidak boleh berhenti pada slogan-slogan populer. Kita harus mengikuti jejak institusi, bahasa hukum, lokasi intelektual, dan konteks geopolitik tempat ide-ide itu dibentuk. Dalam hal ini, Globalists memberi pelajaran penting: untuk memahami sebuah ideologi, kita tidak cukup membaca apa yang dikatakannya tentang manusia; kita juga harus membaca apa yang ingin ia lakukan terhadap dunia.
Demokrasi, Kedaulatan, dan Ketakutan terhadap Rakyat
Barangkali bagian paling mengusik dari pengantar ini adalah implikasinya terhadap demokrasi. Dari bacaan Slobodian, menjadi jelas bahwa neoliberalisme tidak pernah sepenuhnya percaya pada rakyat. Ia menerima demokrasi sejauh demokrasi tidak mengganggu pasar. Tetapi ketika demokrasi mulai menuntut pengaturan harga, kontrol modal, nasionalisasi, pajak progresif, atau perlindungan sosial yang agresif, neoliberalisme segera mencari mekanisme untuk membatasi jangkauannya. Dengan demikian, neoliberalisme bukan anti-negara secara sederhana; ia lebih tepat disebut sebagai anti-demokrasi ekonomi.
Di sinilah kita menyaksikan konflik filosofis yang mendalam antara dua imajinasi tentang kebebasan. Di satu sisi, ada kebebasan yang dipahami sebagai perlindungan atas sirkulasi kapital, hak milik, kontrak, dan keterbukaan pasar. Di sisi lain, ada kebebasan yang dipahami sebagai kemampuan kolektif suatu masyarakat untuk menentukan nasib ekonominya sendiri. Neoliberalisme berpihak kuat pada pengertian pertama dan cenderung curiga terhadap pengertian kedua. Maka sesungguhnya yang dipertaruhkan dalam neoliberalisme bukan hanya kebijakan ekonomi, melainkan definisi kebebasan itu sendiri.
Karena itu, pengantar Globalists memaksa kita untuk bertanya lebih radikal: apakah dunia modern yang kita sebut global ini sungguh dibangun demi umat manusia, ataukah ia dibangun untuk menjamin bahwa modal dapat terus bergerak tanpa banyak diganggu oleh kehendak politik rakyat? Pertanyaan ini sangat penting, sebab banyak krisis kontemporer—ketimpangan, populisme, kemarahan terhadap elit global, dan kerapuhan negara kesejahteraan—tidak dapat dipahami tanpa melihat sejarah panjang pemisahan antara ekonomi dan demokrasi yang dilakukan secara sistematis.
Pada titik ini, esai Slobodian tidak hanya menjadi sejarah intelektual. Ia berubah menjadi pelajaran penting bagi zaman kita sendiri. Kita hidup dalam dunia yang kerap memuliakan prosedur demokratis, tetapi pada saat yang sama menempatkan keputusan-keputusan ekonomi paling mendasar di luar jangkauan publik. Kita boleh memilih pemerintah yang kita sukai, tetapi tidak akan pernah sungguh-sungguh memilih arsitektur pasar global yang mengikat pemerintah itu. Kita boleh berbicara tentang kedaulatan, tetapi kedaulatan itu telah lama dinegosiasikan di bawah tekanan hukum, utang, investasi, dan perjanjian internasional. Dalam arti inilah neoliberalisme bekerja paling efektif: bukan ketika ia menang dalam debat, tetapi ketika ia berhasil membuat struktur-strukturnya yang sangat tampak alami.
Penutup: Membaca Globalists sebagai Genealogi Dunia Kita
Berdasarkan halaman-halaman pengantar yang Anda kirim, Globalists tampak sebagai salah satu karya penting untuk memahami bahwa neoliberalisme bukanlah sekadar dogma ekonomi, melainkan ontologi politik tentang dunia. Ia menentukan bagaimana kita memahami negara, pasar, hukum, kebebasan, dan bahkan batas legitimasi demokrasi. Slobodian menunjukkan bahwa neoliberalisme tidak lahir dari pemujaan polos terhadap pasar bebas, tetapi dari proyek sadar untuk merancang tatanan dunia pasca-imperium yang aman bagi kapitalisme.
Kekuatan utama buku ini terletak pada keberaniannya menolak mitos yang sudah terlalu lama diterima. Pasar ternyata tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu ditopang, dikurung, dan dilindungi. Negara tidak dihapus; ia direkayasa ulang. Hukum tidak dikurangi; ia diperluas hingga menembus skala global. Dan kedaulatan nasional tidak dipuja; ia dicurigai sejauh dapat menjadi kendaraan bagi tuntutan demokrasi ekonomi. Dengan menyoroti Geneva School, Slobodian juga berhasil mengingatkan kita bahwa sejarah neoliberalisme jauh lebih internasional, lebih pasca-imperial, dan lebih legalistik daripada yang biasa dibayangkan.
Bagi pembaca di dunia pascakolonial, bacaan ini membawa resonansi yang amat kuat. Ia membantu kita melihat bahwa banyak keterbatasan yang dihadapi negara-negara berkembang bukan semata hasil kelemahan internal, tetapi juga bagian dari sebuah tata dunia yang sejak awal dirancang untuk membatasi ruang eksperimen ekonomi-politik mereka. Dalam arti ini, Globalists bukan hanya buku tentang masa lalu. Ia adalah buku tentang struktur diam yang masih bekerja dalam masa kini.
Maka membaca pengantar buku ini sesungguhnya adalah membaca asal-usul dari zaman yang kita tinggali sekarang: zaman ketika demokrasi sering boleh berbicara, tetapi tidak selalu boleh menentukan; zaman ketika negara diminta bertanggung jawab kepada rakyat, tetapi secara bersamaan dipaksa tunduk pada pasar; zaman ketika kemerdekaan politik telah dirayakan, namun kedaulatan ekonomi masih terus dinegosiasikan. Di tengah dunia seperti itu, Globalists mengingatkan kita bahwa pertarungan terbesar bukanlah antara negara dan pasar, melainkan antara dua visi peradaban: satu yang menempatkan manusia sebagai subjek sejarah, dan satu lagi yang menata dunia agar kapital tetap menjadi penguasa yang tak terlihat.
